walaupun bukan aku, senang boleh dong..

Nah, jadi gini, kemaren malam hari Jum’at tanggal 26 Agustus 2011 jam 21.30, aku dan mama nonton acara Kick Andy (semua tau kan talkshow yang ini?). Aku berhasil ngomporin orang serumah buat nonton episode yang satu ini, karena bintang tamunya adalah tim Ekspedisi dari Mahitala UNPAR yang baru saja menyelesakan pendakian 7 puncak dunia, atau yang lebih dikenal dengan Seven Summit.

Jelas aja aku sebagai orang Indonesia senang banget, sekaligus bangga. Indonesia sekarang sudah punya Seven Summiters, jadi negara kita tercinta ini sudah tercatat sebagai segelintir negara yang berhasil mengibarkan benderanya di 7 atap dunia itu. Olahraga mountaineering atau yang lebih dikenal dengan mendaki gunung pun menjadi populer dikalangan pemuda-pemudi kita.

Siapa yang nggak bangga? Bisa menapaki 7 puncak. Nilai positif yang diambil juga banyak. Olahraga ini juga membangun karakter seseorang. Kenapa? Karena selain kita bisa banyak belajar saat di lapangan, kita juga bisa langsung menerapkan prinsip hidup, terutama saat menghadapi masalah. Seperti kata seseorang yang aku lupa namanya, It’s not the mountain we conquer, but ourself. Untuk lebih jelasnya mengenai ini bisa tanya sama teman-teman yang lebih profesional deh. Hehehehehe.

” Mereka keren ya, Ma?” kataku. ” Kapan aku bisa kayak mereka?”

Pertanyaan itu langsung terlontar begitu saja dari mulutku, mengingat untuk melakukan olahraga yang satu ini orang tuaku sepertinya sangat tidak mendukung. Mendengar itu orang tuaku terdiam, kayaknya lagi mikir juga.

” Tuh kan, mendaki gunung itu bukan buat jadi orang utan atau nyari mati, tapi nilai positifnya banyak, besok tahun baru aku juga mau ndaki lagi ah..”

Kayaknya aku mulai ngomporin nih. Hahahaha. Lagi-lagi orang tuaku juga hanya diam, sambil menyimak kisah petualangan mereka. Karena takut kena ceramah panjang lebar, aku pun menyerah untuk ngomong lagi (udah ada pengalaman buruk dengan itu soalnya :)).

Ketika sampai di kisah Pendakian Gunung Elbrus, yang notabene gunung tertinggi di Eropa, baru lah orang mamaku berbicara. Kali ini mengenai Indonesia’s Route, jalur pendakian yang mereka buat menuju puncak. Waw, Awesome. I know.

” Ndeh. Yo bagak-bagak anak urang ko yo,” kata Papaku menanggapi dengan bahasa Minang yang kental.

” Tuhan bersama orang-orang yang berani,” kataku pendek, sok cool juga sih. Hehehe.

Cerita berlanjut hingga bagaimana mereka berhasil mencapai puncak Aconcagua, Everest dan yang terakhir Gunung McKinley, Denali. Nggak ada yang bisa membayangkan perasaanku. Pengen ngucapin kata-kata untuk mengungkapkan betapa hebatnya mereka terpaksa harus ditahan, karena itu sama aja dengan ngomporin mama lagi, secara sama aja minta izin ndaki secara nggak langsung. Waduh…

Tapi tanpa disangka, mamaku berkata, ” Kalau kamu memang mau mendaki, pergilah.”

Waaaahh, awalnya aku ngerasa salah dengar. Tapi setelah mengumpulkan kesadaran, aku baru ngeh, kalo aku nggak mimpi.

” Tapi mama tetap nggak setuju kalo kamu bergabung sama kelompok Pecinta Alam kampus kamu itu,” tukas mama lagi.

Hmm, kali ini aku memang harus menerima kenyataan kalo aku memang nggak direstui untuk bergabung lagi dengan teman-temanku yang ketemunya seperti ‘kecelakaan’ itu. Tapi ya sudahlah, yang jelas aku bisa melakukan hobiku dengan tenang, bebas mendaki kemana aja, sama siapa aja, dan tentunya dengan izin. Jadi nggak perlu kucing-kucingan lagi kalo ndaki gunung yah. Fyuuhh.

Kayaknya aku harus bilang makasih juga nih sama Om Andy Noya dan abang-abang pendaki Mahitala itu. Karena kalo episode itu nggak tayang, mungkin aku harus kucing-kucingan seumur hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s