The place where I belong

Whatever happen, we have a place where we belong..” -Kutipan entah darimana.

Ya, kayaknya itu salah satu yang tepat untuk menggambarkan secara keseluruhan yang telah kujalani. Bukan sombong, tapi memang itu kenyataannya.

Pada awalnya memang terasa tak ada tempat untuk orang yang banyak ‘bacot’, suka mengkhayal, berpetualang akan tetapi berjiwa pemberontak sepertiku. Semakin terasa bahwa karakter sepertiku tidak diterima di organisasi manapun ketika aku bergabung dengan salah satu organisasi yang sangat kuinginkan, karena sangat sesuai dengan hobiku.

Pada awalnya memang menyenangkan menjadi bagian dari mereka. Ilmu yang didapat setimpal dengan apa yang ku harapkan, mereka mengajarkan persaudaraan, tata cara berorganisasi, dan hal-hal kecil lainnya. Tapi kemudian–secara tidak langsung, aku diajarkan untuk berbohong kepada orang tuaku, bahkan memberontak pada orangtuaku sendiri (sad :(). Mulai dari hal paling kecil hingga hal yang paling besar.

Susah untuk tak menuruti keinginan mereka yang jauh sekali bertentangan dengan keinginan orangtuaku. Mungkin ini cuma cobaan seberapa keras kemauanku, kataku dalam hati setiap kali pendapat kami bertolak belakang. Oh iya, semua ini terjadi sebelum aku sepenuhnya menjadi anggota. Semakin dekat langkah untuk menjadi anggota, cobaan pun semakin berat.

Kali ini untuk urusan uang pun aku harus berbohong, harus pulang lebih larut malam, semakin sering dipaksa untuk bolos kuliah–alasannya demi kebersamaan (#plaaaakk). Mulai jenuh, aku nggak menuruti keinginan mereka yang berujung pada cap ‘egois’ kepada diriku. Semakin jenuh, akupun sudah mulai menyerah dengan keinginanku dan mulai berfikir, sepertinya mereka memang tidak cocok untukku.

Yah, korsleting kecil-kecilan sebenarnya biasa. Tapi yang luar biasa adalah sulutan bensin di bunga-bunga api yang kecil itu, membuat kebakaran besar. Kebakaran itulah yang mengantarkanku pada ribut besar dengan salah satu anggota tim-ku.

Sepenuhnya aku nggak menyalahkan mereka, ataupun dia sampai sekarang. Namun sifat kurang ajarnya yang membuatku tak dapat memaafkannya. Di dalam ribut yang kecil-kecilan–korsleting–ia mengungkit-ungkit hingga hal yang paling sensitif–menyiramkan bensin pada bunga api–wow–yaitu orangtuaku.

Yah, kali ini aku benar-benar menyerah. Aku nggak bisa toleransi nih kalo aku juga diajarin jadi kurang ajar. Kuputuskan hari itu juga untuk keluar, hal yang seharusnya aku lakukan sejak lama dan sampai saat ini tidak aku sesali.

Entah mereka dapat doktrin dari mana, mereka masih menganggapku ‘saudara’ buat mereka–walaupun aku nggak peduli. Haaiiissshh…

Tahun akademik baru, berarti kegiatan dikampus juga baru. Disaat kampus mengadakan acara magang di berbagai UKM, aku pun dihadapkan kepada banyak pilihan yang sesuai dengan hobiku.

Namun kali ini aku merasa lebih bijaksana dalam memilih. Setelah menimbang-nimbang, aku putuskan untuk mendalami bidang jurnalistik, hobiku yang paling minimal–yang buat orang awam nggak bakalan pernah mikir kalo aku bisa di bidang ini–secara tampang nggak mendukung sih. Hahahaha..

Ya, menurutku sesuatu yang terlalu itu nggak bagus, contohnya; terlalu cinta kepada alam sampai bela-belain ikut perkumpulannya. Belum tentu kita cocok dengan pergaulan disana kan? Menurutku biarlah menikmati alam sebebas-bebasnya (dalam artian positif nih), tapi menikmati yang sedang dinikmati.

Yah, percuma saja, menyandang predikat yang begitu bergengsi, tapi nggak tahu apa-apa. Lebih bagus nggak menyandang predikat apa-apa tapi “mengerti”.

Saat ini hingga beberapa minggu ke depan, aku, Sang Penulis, sedang menjalani magang di salah satu organisasi jurnalistik kampus. Bagiku, mereka yang disini lebih hangat, dan lebih welcome. Mereka nggak besar kepala, dan menurutku mereka yang terbaik, dan yang paling tangguh karena bertugas di segala medan. Mereka lebih rendah hati dan tidak berjalan dengan kepala mendongak.

Karakter seperti ‘mereka’ jauh lebih bersahabat buatku. Akan tetapi untuk bergabung bersama mereka, aku masih berpikir dulu. Aku nggak mau membuat ‘cacat’ tim mereka.

Paling nggak, aku sudah tahu dimana tempatku seharusnya. I know the place where I belong.

#Semua yang tertulis di post ini adalah kreatifitas penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s