Dimana bumi dipijak, disanalah ditemui orang yang berbeda…

” Lain lubuk, lain ikannya, lain ladang lain belalang. Dimana bumi di pijak, disitu langit di junjung. “

Petuah lama diatas kira-kira kalau diterjemahkan secara kasar mirip dengan pepatah modern seperti :

” Siapapun dirimu, apapun latar belakangmu, darimanapun asalmu, hal yang perlu kau ingat adalah : ketika berhadapan dengan berandalan bersikaplah seperti berandalan, ketika berhadapan dengan intelek bersikaplah seperti intelek, ketika berhadapan dengan orang biasa bersikaplah seperti orang biasa.”

Benar atau tidak? Atau butuh koreksi? *hohohoho*

Belakangan ini tak terhitung berapa kali aku berhadapan dengan yang namanya ‘orang asing’, atau bahasa lainnya bule. Ya, resiko dari kegiatanku yang sekarang memang seperti itu–akan kutulis di post-ku selanjutnya. Karena itulah sedikit banyaknya aku sudah melihat karakter dari masing-masing orang, seperti ; betapa periang dan ramahnya teman-teman dari Cina, betapa penuh tata krama, sopan dan jaimnya orang Jepang, cuek-cuek ramah dan ceplas-ceplosnya teman-teman dari Eropa, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tentu saja tak ketinggalan betapa gila dan hebohnya teman-teman sesama Indonesia disini, hoaahahahaha 😀 *manggilo*

Setidaknya itu semua secara garis besar menurut pandanganku, dan dengan sepenuh hati tanpa bermaksud rasisme, atau apapun–only opinion. Overall, semua orang-orang itu mempunyai keinginan yang sama, yaitu : Living diversity, self-chalenging, culture exchange, dan tentunya merasakan life changing experience.

Dan aku menemukan beberapa fakta menarik dan unik yang menurutku teman-teman pembaca perlu tahu :

1. Mereka nggak suka di perlakukan spesial. Ini jelas sekali, satu nilai positif yang patut ku acungi jempol. Contoh : seorang temanku ngobrol dengan salah satu trainee asal Jepang dan tanpa sengaja–atau cuma iseng–menyebut -san dibelakang namanya, seperti layaknya orang Jepang berbicara dengan sesamanya. Lalu si bule ini protes, panggil namaku saja sudah cukup, aku sudah cukup dengan hormat-menghormati di tempat asalku. Okeee…

2. Rata-rata mereka merasakan culture shock yang menurutku negatif. Menurutku ini sih culture shock biasa aja, namanya juga bertandang ke negeri orang. Namun yang membuatku feel embarassed as Indonesian adalah ketika saking ceplas-ceplosnya mereka menjawab : Orang Indonesia jamnya flexible sekali, jalanan disini kotor banget, sampah berserakkan dimana-mana, orang-orang Indonesia punya banyak waktu luang, namun mereka tak memanfaatkannya dengan baik sehingga lebih banyak yang bermalas-malasan.
Namun, setelah agak shock mendengar culture shock negatif itu, perasaan saya terobati sedikit karena mendengar : Orang Indonesia murah senyum, sesuatu yang tak akan kamu jumpai ketika kamu ke Eropa, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

3. Mereka semua work-a-holic. Jadi, sebaiknya jika berurusan dengan bule, sebaiknya pastikan apa yang harus mereka lakukan. Aku nggak tahu kalau ini ada sangkut-pautnya dengan tingkat kesibukan seseorang, akan tetapi apabila aku perhatikan, aku mendapat kesan mereka akan mengatakan ” hanya segini saja?” Waahh, padahal kerjaannya itu susah loh, nggak gampang, dan cukup berat. Aku pun merasakan hal yang sama ketika berada di Cambodia beberapa waktu yang lalu, pekerjaan yang menurut mereka standar, menurutku masih terlalu ringan dan kurang *eeeeehhh*

4. Pastikan disiplin, komitmen dan konsistensi. Telingaku sudah cukup panas mendengar : Jam di Indonesia flexible banget. Mungkin semua orang nggak suka ya sama yang namanya telat, tapi yang anehnya, kenapa adaaaa saja halangan yang akan mengulur waktu ketika sesuatu akan terjadi. Hmm, kalau yang ini ya memang harus diperbaiki. Komitmen dan konsistensi mereka juga patut diacungi jempol. Aku pernah bertanya pada salah satu trainee ketika meeting kami selesai di suatu malam, ” kamu pulang sama siapa?” dan dia jawab, ” aku pulang sama si XXXX  katanya jam 9 dia bakalan jemput aku,”, terus aku tanya lagi, ” sudah di hubungi si XXXXnya sekarang sudah hampir jam 9 loh?”, dia jawab ” nanti saja, dia akan datang jam 9 malam.”
Bandingkan dengan kita yang biasanya pasti sudah gerah menunggu seseorang. Saluutt banget sama tuh orang. Intinya saling percaya aja.

Bagaimanapun cara orang-orang itu membaur dan mempraktekan pepatah nenek moyang, ada saatnya juga mereka protes. Hahahaha, saatnya pepatah modern dijalankan, kita harus bertindak sesuai dengan karakter masing-masing orang *semua juga tahu kali*.

Semua cerita mempunyai dua sisi, positif dan negatif, dan aku tahu, semua orang didunia juga mengetahuinya. Hanya saja, cara kita menaggapinya. Apabila hal negatif ditangani dengan positif, hasilnya pun akan lebih baik.

 

Advertisements

2 thoughts on “Dimana bumi dipijak, disanalah ditemui orang yang berbeda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s