Heartache Parade

” Apapun alasannya, apapun kesalahannya, apapun situasinya, hargai orangtua yang terpenting…”

Kutipan diatas harap dicerdasi ya..

Jadi, tulisan ini terinspirasi dari kejadian yang barusan terjadi. Ceritanya gini, papaku nggak sengaja nabrak mobil angkot (yang nabrak mobil papa atau angkot yang nabrak mobil papa–gue nggak tau)–let say first yang nabrak papaku. Sopir angkot itu minta diganti rugi, ngeyel lagi. Aku nggak tahu cara berpikir bapak-bapak, tapi yang dilakukan papaku itu bisa dibilang baaaiiiikkk banget. Papa mau mengganti kerusakkan angkot itu–bayangin aja, kalo aku mungkin udah balas labrak kalo dibentak kayak gitu.

Duit 150rb langsung dikeluarkan, cash. Yang nggak enaknya, supir angkot sialan yang nggak punya otak itu langsung buang itu duit di depan papa. Catat ya : DIDEPAN. Sambil minta tambah karena duitnya kurang. Heh, please deh. Kalo duitnya kurang, nggak bisa ya mintanya baik-baik, nggak pake cara kurang ajar gitu?! Papa mungkin terlalu sabar dan hanya mengucapkan “Astagfirullah..”.

Adik laki-laki ku yang notabene masih ababil, langsung nyerang balik. Dia pungut duitnya dan balas bentak yang kira-kira seperti ini : ” Kalau ndak suko ndak bantuak tu caronyo do da, jan pitih nan di campak an. Kurang pitihnyo? Pacik hape den..”

Dalam bahasa Indonesia : ” Kalau lo nggak suka, caranya nggak kayak gini, Bang. Jangan duit yang lo buang kyak gini. Kalau duitnya kurang, nih, lo ambil hape gue…”

Aku yakin, kalau adikku nggak nahan-nahan emosi, atau orang itu masih ngeyel, pasti adikku juga udah bikin gigi orang itu rontok, atau setidaknya ngasih bogem mentah. Namun entah bagaimana kelanjutannya, akhirnya orang itu menerima uang yang dikasih papa. Mungkin papa mau ngasih kekurangan duit itu–atau nggak, tapi karena orang itu kurang ajar BANGET, ya gitu deh. Papaku emang hebat, sabarnya kuat.

Coba bandingkan denganku, mendengar cerita adekku aja–aku nggak liat kejadiannya langsung, tapi diceritain sama adekku–udah naik ini darah, jadi pengen praktekin “jurus mabok” biar rontok atau apalah tuh orang. Apalagi kalau aku yang liat secara langsung di TKP, mungkin gerakkan reflekku bisa lebih cepat geraknya daripada kerja otakku–atau semacam itulah.

Buat aku sih, apa nggak pernah terpikir sama sopir angkot itu kalau bapaknya diperlakukan seperti itu? Atau dia yang diperlakukan seperti itu? Untungnya aku nggak tau siapa orangnya, kalau tahu bolehlah aku cari. *devillaugh*

Terlepas dari kejadian diatas, aku mulai bertanya-tanya. Apa benar pola pikir laki-laki dan perempuan berbeda? Adekku yang cowok lebih memilih berbicara dengan tenang, tapi tajam, dan papaku lebih tenang lagi–nggak tau dalamnya gimana. Sedangkan aku, langsung emosi. Nah loh..

Tapi beneran nih, apakah orang itu memang kurang beradab, atau memang bawaan lahirnya nggak bisa ngomong baik-baik? Apapun alasannya, sikapnya nggak bisa diterima. Nggak ada alasan untuk membentak orang tua. Aiissshhh, siapa sih lo?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s