Facebook, positif atau negatif?

Zaman memang sudah berubah. Saat ini sudah zamannya digital, semuanya dimanjakan dengan sarana digital. Istilahnya, apa-apa tinggal klik. Mau belanja bisa di klik, mau bisnis, tinggal slide, mau transaksi tinggal pencet. Hampir semua kalangan dapat menikmati kecanggihan teknologi, setidaknya untuk bermain game, sekedar membuka jejaring sosial, ataupun yang lainnya. Berhubung saya bukan game-freak, jadi saya nggak akan membahas game–takut salah. Hehehe 😀

Oke, yang paling sering saya amati, perhatikan–apapun bahasanya–ketika surfing internet adalah jejaring sosial, terutama Facebook. Siapa yang nggak tau? Ketinggalan banget deh. Saking canggihnya teknologi, bersosialisasi pun bisa dilakukan dari rumah, tanpa harus face-to-face. Terkadang, orang-orang yang menikmati sosialisasi ala hi-tech ini bisa dikatakan bego, bodoh, fool, bad ass, stupid, lebay, alay, atau apalah. Istilah bego dan teman-temannya itu ditujukan untuk mereka yang menurut pendapat saya agak ‘berlebihan’ dalam ber-facebook ria.

Kenapa begitu? Inilah beberapa hasil pengamatan saya setelah sekian lama berada di ‘dunia lain’ tersebut :

1. Setidaknya ada beberapa saat dan dalam hitungan menit, maniak FB yang update status dengan broken heart story. Hahahaha, istilahnya ngadu lagi galau, patah hati, dsb. Kayak FB bakalan ngilangin rasa sakit hati aja, atau sekedar minta empati atau simpati dari orang lain. Kalau dipikir-pikir, masalah kayak gitu kan ‘biasanya’ bersifat pribadi. Rasanya kayak ngomong pelan-pelan tapi pake microphone di depan umum. Nggak malu ya?

2. Pasti ada aja kata-kata kotor, makian, kutuk-mengutuk yang ditujukan kepada seseorang. Menurut aku sih, itu ulah orang-orang yang pengecut. Kalau nggak suka sama seseorang, ngomong langsung dong. Ngata-ngatain lewat facebook nggak ada gunanya. Pesanku nih, buat ‘korban-korban’ dari orang yang hobinya kayak gitu, postive thinking aja, sabar. Oke?

3. Pernah dong baca pesan Wall-To-Wall yang kayak gini : A ke B = ” sayang lagi ngapain?” B ke A = ” nggak ada tuh..” A ke B = ” aku kangen kamu, love you :*” B ke A = ” love you too :*” Huaahahahahaaaaa, huueeeekkksss. Mau gangguin tapi rasanya gimanaaaa gitu, yaudah, ketawa aja. Apalagi kalo ada yang lagi berantem, seru tuh. Geli banget. Nggak malu ya kalau misalnya yang baca itu orang tua kalian, guru, atau malah teman-temannya? Aisshh, horrible.

4. Ada juga orang-orang yang ‘terlalu rajin beribadah’, sehingga berdoa pun bisa melalui Facebook. ” Ya Allah, blablabla…” Ampun deh, kayaknya Allah juga punya FB deh. Bukannya aku bermaksud melcehkan atau gimana, tapi kalau memang niatnya berdoa, kan lebih afdol kalau dilakukan dalam sholat, atau berdoa lainnya. (Menurut agama dan kepercayaan masing-masing ya).

5. Dan yang lebih konyol lagi, ada yang ‘hidup’ di Facebook. Pokoknya kayak punya kehidupan lain gitu. Get what I mean? Aku sih nggak terlalu ambil pusing buat kasus yang ini, mungkin aja mereka cuma ngelakuinnya just for fun atau alasan lainnya. Tapi tetap aja sih, buat aku yang kayak gini kesannya menyedihkan. Kayak yang nggak ada teman di dunia nyata atau gimanaaaa gitu. Entahlah, aku juga nggak ngerti.

Saya mengakui kalau saya juga seorang facebook-a-holic, akan tetapi saya menjamin saya tak termasuk dalam kategori segila itu. I’m crazy with my own style, don’t need facebook to be the one. Intinya, teknologi canggih terkadang membodohi kita. ‘Main’ sama teman-teman via Facebook itu nggak seasik main sama teman-teman di dunia nyata deh.

Namun dibalik hasil pengamatan negatif diatas, pengamatan yang hasilnya positif juga ada. Semua cerita punya dua sisi kan? Hahaha. Tulisan ini murni PENDAPATKU, mungkin ada teman-teman penulis lain yang berpendapat kurang lebih sama. Mungkin juga ada teman-teman pembaca yang tak sependapat denganku. Komentar dan masukkan boleh dikeluarkan.

Kita bebas berpendapat kan? 🙂

Tumbleblog, for my friendship–or not?

Jadi teman aku yang tinggal di Mainland of China, namanya Maggie ” protes” beberapa hari yang lalu. Aku ketemu sama Maggie waktu lagi Exchange di Cambodia beberapa waktu lalu. Kami berteman baik, sampai sekarang pun masih keep in touch, ya via Facebook, n email. Berhubung di Cina sana nggak ada Facebook, jadinya kami lebih sering berkomunikasi lewat email.

Si Maggie ini dan teman-temanku yang lainnya, yang berasal dari Cina ini sekali-sekali bisalah “mencuri” untuk buka Facebook dengan software yang aku nggak tahu namanya dan cara kerjanya. Dia (Maggie) selalu chat dan singgah ke wall facebook-ku hanya untuk mengabari ” hey, i’m still alive”, atau mengomentari status-status dan foto-fotoku, tentu saja dalam bahasa inggris.

Hingga suatu saat dia mengirimi email yang isinya kira-kira seperti ini : ” I am really glad that i have someone who still care to me eventhough we are far, I really miss you, Tiara. And everytime I open Facebook, I always look at your page. But that’s too bad, I don’t understand it. You should write more English…”

Artinya kira-kira gini :

” Aku senang karena masih ada yang peduli sama aku walaupun jauh. Aku kangen banget sama kamu, Tiara,” –waaahh ternyata aku dikangenin *plaaaakk*–” Setiap kali aku buka Facebook, aku selalu singgah ke halaman facebook kamu. Tapi sayang banget, aku nggak ngerti apapun yang kamu tulis. Sebaiknya kamu menulis lebih banyak dalam Bahasa Inggris deh…”
So, aku mikir, kalau status facebook dalam bahasa inggris semua, ntar teman-temanku yang lain gimana dong? Lagian nggak seru juga bikin status di Facebook itu dalam bahasa inggris, rasanya gimanaaaaa gitu. Hahahaha~~

Sewaktu di Cambodia aku pernah dibuatin akun sejenis Facebook versi Cina, kalo nggak salah namanya renren.com. Tapi sayang banget, aku nggak bisa baca apa-apa, alias nggak ngerti satu pun isinya, hiks~~

Aku juga pernah ngasii link blog aku yang ini ke Maggie–mungkin aja dia tertarik kan? Nah yang ini kecil kemungkinannya, soalnya di blog pun aku tetap memprioritaskan berbahasa Indonesia walaupun bukan yang baik dan benar–nasionalisme ceritanya nih 😀

Sempat terpikir olehku untuk membuat post dalam bahasa Inggris, tapi nggak mungkin juga dengan beberapa alasan. Dan disaat-saat pelik itulah *duuuhh bahasanyaaa* ide yang bagus melintas di depan mata.

Ternyata tanpa disadari teman-temanku yang sedang melakukan internship di Padang juga banyak yang nge-blog. Pas aku tanya, mereka banyak yang ngasih saran tumbleblog milik tumblr.com. Alasannya, simpel, menarik, dan lebih mirip social network. Mulai deh bikin akun tumblr.com, terus iseng utak-atik, ternyata asik juga. Dan entah kenapa aku ngerasa lebih cocok untuk mengisi blog tersebut dalam bahasa Inggris. Yeeaaahhh, akhirnyaaa..

Selain tulisan, kita juga bisa mengisi tumbleblog itu dengan video, musik, quotes, chat, audio, dan hal-hal lain yang simple, menarik, dan apik yang tak ditemui di blog yang biasanya aku pakai.

Sampai sekarang sudah ada 2 tulisan di tumbleblog ku, hehehe *promosi* dan akan terus bertambah. Soalnya nggak tahu kenapa juga aku lebih mudah dapat inspirasi menulis di tumbleblog gitu. Hahahahaha, alasan ngaco~~

Not to mention my english is still suck. Setidaknya kan menulis itu sambil belajar juga–menurutku sih.

Semoga si Maggie dan teman-teman yang lainnya terbantu deh dengan adanya tumbleblog. Gimana sama teman-teman pembaca? Tertarik dengan tumbleblog?
Kindly visit my tumbleblog : tiarasaders07.tumblr.com :))

 

Dilemma Korean Wave

Tulisanku kali ini lebih kepada pendapat pribadi sih, ya setelah banyak yang kuamati selama ini. It’s probably boring for readers, but if you curious, you can keep read it ’till the end. Tulisan ini jujur pendapat pribadiku.

Aku bosan banget, muak atau apalah namanya dengan kehebohan tersendiri yang dibuat teman-teman, kerabat, atau bahkan saudara-saudaraku sendiri ketika menonton, mendengarkan musik, bahkan news hunting artis Korea. Apa yang spesial dengan orang-orang Korea itu? Setahuku mereka hanyalah orang biasa seperti kita.

Mungkin aku terlalu bodoh kalo aku nggak pernah dengar lagu-lagu Korea, melihat film Korea, atau nggak tahu negara Korea Selatan. Aku tahu, dan aku nggak sebodoh itu. Jadi aku akan membuat beberapa poin yang menurutku terlalu konyol mengenai Korean wave–atau apalah..

  • Ketika aku mendengarkan musik korea, aku di cap sebagai pecinta Kpop.
    Ah, c’mon, music is universal. Lagipula aku hanya tahu apabila mendengarkannya, penyanyinya? Judul lagunya? Penyanyinya sudah punya pacar atau belum? Model rambutnya? Umurnya? What the fuck, man. I dont give a damn for it.
    Aku bahkan nggak ngerti bahasa Korea. Secara musiknya? Aku nggak in dengan musik mereka yang cenderung ke dance. Tapi kalau yang rock, atau yang berbau distorsi? Mungkin masih bisa ditoleransi oleh telingaku yang kasar ini. :O
  • Ketika aku nonton drama Korea, film korea, aku dikira keranjingan Kdrama.
    Ini lagi. Aku memang hobi nonton, terutama action, dan drama korea yang pertama kali aku ikuti itu City Hunter. Sebatas itulah aku tahu Lee Min Ho. Lalu aku bertanya kepada salah seorang temanku yang fanatik Kdrama, geli banget deh waktu dia bilang : ” Haaa, Sanders pecinta drama Korea ya ternyata?” atau, ” Tumben, biasanya kelainan sendiri…”
    Ya ampuunnn, memangnya kalau hanya menonton dan bertanya, sudah pasti ya seseorang itu suka hal itu? Gimana ceritanya kalau aku tanya film buatan Amerika? Apa sudah pasti aku suka semua film produksi Hollywood itu? Think about it, guys.
  • Ketika aku berbahasa Korea, berpakaian ngejreng, merencanakan liburan atau internship ke Korea Selatan, aku dikira ketularan virus Korean wave.
    Dont be ridiculous, guys. Aku tahu sedikit mengenai Bahasa Korea karena aku sempat latihan Tae Kwon Do, seni beladiri dari negeri Ginseng tersebut. Hana, Dul, Set, atau Ijang, Illjang, Sam, alias satu, dua, tiga merupakan kata yang sering kami gunakan ketika berlatih. Begitu juga dengan sunbae, sabeom.
    Dan yang lebih konyol lagi ketika aku berpakaian ngejreng, pasti dikira penggemar Kpop. Oke, sekarang kiblat fashion dunia, terutama negara-negara di Asia sudah pindah ke Korea Selatan. All I know is just wearing good outfit, aku mana tahu kalo baju yang aku pakai itu berasal dari mana, aku nggak ngerti fashion. Kalo pakaian yang aku pakai sehari-hari bagus, dan matching, berarti selera fashionku nggak terlalu buruk. Hahahahahaha 😀
    Internship to South Korea? Orang bodoh mana yang mau menolak? Setidaknya yang tak mengerti apa-apa pun pasti mau kan ke luar negeri? Oh my god takes three -____________-

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang menurutku konyol, tapi setidaknya tiga hal diatas sudah cukup menggambarkan betapa gilanya mereka. Aku nggak menyalahkan orang2 yang hobi Kpop. Selera kita beda, aku hargai itu, akan tetapi aku agak miris–dari sudut pandangku, ya konyol aja sampai-sampai berdakwah sehingga mencap seseorang penggemar hanya karena hal sepele yang mungkin sama. For me, it’s okay to idolize someone. But trying to be someone you idolizes, you better not. Eh~~nggak nyambung ya? ::get hammer::

Intinya, aku agak risih aja sama saudara-saudaraku yang sangat mengelu-elukan artis korea, mencari tahu tentang berita terbaru mereka–bahkan berdakwah untuk menyebarkan virus Korean Wave. Mungkin kesannya terlalu menjudge ya, tapi ini lah pendapatku. Kita bebas berpendapat kan?