My Wish

Hmm, sebenarnya aku nggak mau memperpanjang kata-kata muqadimah yang biasa aku pakai untuk membuka setiap tulisanku dalam blog ini. Alasannya ya, tulisan ini sebenarnya aku sudah tulis di Facebook’s Notes. Tapi apa daya, tanganku ini gatal, setidaknya gatal karena memikirkan bagaimana jadinya kalau tulisanku kali ini nggak pakai penjelasan ini-itu, feels like soooooo plain. LOL~~

Buat yang suka lagu-lagu country pop mungkin sudah pernah mendengar nama Rascall Flatts. Suara Gary LeVox dan back-vocal lainnya seakan membuai dengan alunan gitar ala koboi yang khas. Aransemennya juga enak. Buat yang biasanya mendengarkan musik-musik keras alias metalheads sebaiknya jangan berharap banyak sama Rascall Flatts ya, karena yang namanya musik pop “ya gitu deh”, nggak ada distorsi atau bunyi gitar kayak dengerin lagu Bullet for My Valentine dan teman-temannya.

Gini ceritanya, beberapa waktu yang lalu–sudah cukup lama sih–aku iseng nonton filmnya si Miley Cyrus, iya, Hannah Montana itu. Kebetulan settingnya di sebuah perkebunan–eh peternakan atau lahan pertanian gitu ya? Pokoknya gitu lah, salut banget sama pertanian di USA sana. Dan nggak sengaja aku dengar lagunya yang berjudul Bless the Broken Road dan langsung mikir,manis banget. Hahahahaha..

Namun yang paling menyentuhku adalah lagunya yang berjudul My Wish.
Seandainya saja aku bisa memainkannya on stage pasti akan kumainkan. Kekuatan lagu ini ya ada di liriknya sih–setidaknya buatku. Langsung aja ya, check it out.

I hope that days come easy and moments pass slow,
And each road leads you where you want to go,
And if you’re faced with a choice, and you have to choose,
I hope you choose the one that means the most to you.
And if one door opens to another door closed,
I hope you keep on walkin’ till you find the window,
If it’s cold outside, show the world the warmth of your smile,

More than anything, more than anything,
My wish, for you, is that this life becomes all that you want it,
To your dreams stay big, and your worries stay small,
You never need to carry more than you can hold,
And while you’re out there getting where you’re getting to,
I hope you know somebody loves you, and wants the same things too,
Yeah, this, is my wish.

I hope you never look back, but ya never forget,
All the ones who love you, in the place you left,
I hope you always forgive, and you never regret,
And you help somebody every chance you get,
Oh, you find God’s grace, in every mistake,
And you always give more than you take.

Oh More than anything, Yeah, and more than anything,
My wish, for you, is that this life becomes all that you want it,
To your dreams stay big, and your worries stay small,
You never need to carry more then you can hold,
And while you’re out there getting where you’re getting to,
I hope you know somebody loves you, and wants the same things too,
Yeah, this, is my wish.

My wish, for you, is that this life becomes all that you want it,
To your dreams stay big, and your worries stay small,
You never need to carry more then you can hold,
And while you’re out there getting where you’re getting to,
I hope you know somebody loves you, and wants the same things too,
Yeah, this, is my wish.

Intinya lagu ini seperti seseorang yang melepas kepergian atau ketika akan berpisah dan mendoakan orang-orang yang disayanginya agar semuanya baik-baik saja. Orang-orang disini kayaknya lebih tepat kalau disebut saudara, teman-teman seperjuangan, keluarga, dll. Kalau mau dinyanyiin buat your beloved one juga oke kok, secara musiknya yang tenang membuai gimanaaa gitu. Hehehehehe
Kalo aku sih dedikasikan lagu ini buat sahabat-sahabat yang sudah menjadi saudara buatku, sebut saja orangnya Rizki “Japang”, Rajjif “Djokers”, Kevin, David. Oh iya, Sandra juga, hehehe. Buat teman-teman lain juga deh :))
Penasaran nggak? Nggak ya? Yaudah, nggak apa-apa. Buat teman-teman yang penasaran bolehlah curi dengar via Youtube. Rascall Flatts – My Wish.

Heartache Parade

” Apapun alasannya, apapun kesalahannya, apapun situasinya, hargai orangtua yang terpenting…”

Kutipan diatas harap dicerdasi ya..

Jadi, tulisan ini terinspirasi dari kejadian yang barusan terjadi. Ceritanya gini, papaku nggak sengaja nabrak mobil angkot (yang nabrak mobil papa atau angkot yang nabrak mobil papa–gue nggak tau)–let say first yang nabrak papaku. Sopir angkot itu minta diganti rugi, ngeyel lagi. Aku nggak tahu cara berpikir bapak-bapak, tapi yang dilakukan papaku itu bisa dibilang baaaiiiikkk banget. Papa mau mengganti kerusakkan angkot itu–bayangin aja, kalo aku mungkin udah balas labrak kalo dibentak kayak gitu.

Duit 150rb langsung dikeluarkan, cash. Yang nggak enaknya, supir angkot sialan yang nggak punya otak itu langsung buang itu duit di depan papa. Catat ya : DIDEPAN. Sambil minta tambah karena duitnya kurang. Heh, please deh. Kalo duitnya kurang, nggak bisa ya mintanya baik-baik, nggak pake cara kurang ajar gitu?! Papa mungkin terlalu sabar dan hanya mengucapkan “Astagfirullah..”.

Adik laki-laki ku yang notabene masih ababil, langsung nyerang balik. Dia pungut duitnya dan balas bentak yang kira-kira seperti ini : ” Kalau ndak suko ndak bantuak tu caronyo do da, jan pitih nan di campak an. Kurang pitihnyo? Pacik hape den..”

Dalam bahasa Indonesia : ” Kalau lo nggak suka, caranya nggak kayak gini, Bang. Jangan duit yang lo buang kyak gini. Kalau duitnya kurang, nih, lo ambil hape gue…”

Aku yakin, kalau adikku nggak nahan-nahan emosi, atau orang itu masih ngeyel, pasti adikku juga udah bikin gigi orang itu rontok, atau setidaknya ngasih bogem mentah. Namun entah bagaimana kelanjutannya, akhirnya orang itu menerima uang yang dikasih papa. Mungkin papa mau ngasih kekurangan duit itu–atau nggak, tapi karena orang itu kurang ajar BANGET, ya gitu deh. Papaku emang hebat, sabarnya kuat.

Coba bandingkan denganku, mendengar cerita adekku aja–aku nggak liat kejadiannya langsung, tapi diceritain sama adekku–udah naik ini darah, jadi pengen praktekin “jurus mabok” biar rontok atau apalah tuh orang. Apalagi kalau aku yang liat secara langsung di TKP, mungkin gerakkan reflekku bisa lebih cepat geraknya daripada kerja otakku–atau semacam itulah.

Buat aku sih, apa nggak pernah terpikir sama sopir angkot itu kalau bapaknya diperlakukan seperti itu? Atau dia yang diperlakukan seperti itu? Untungnya aku nggak tau siapa orangnya, kalau tahu bolehlah aku cari. *devillaugh*

Terlepas dari kejadian diatas, aku mulai bertanya-tanya. Apa benar pola pikir laki-laki dan perempuan berbeda? Adekku yang cowok lebih memilih berbicara dengan tenang, tapi tajam, dan papaku lebih tenang lagi–nggak tau dalamnya gimana. Sedangkan aku, langsung emosi. Nah loh..

Tapi beneran nih, apakah orang itu memang kurang beradab, atau memang bawaan lahirnya nggak bisa ngomong baik-baik? Apapun alasannya, sikapnya nggak bisa diterima. Nggak ada alasan untuk membentak orang tua. Aiissshhh, siapa sih lo?

Facebook, positif atau negatif?

Zaman memang sudah berubah. Saat ini sudah zamannya digital, semuanya dimanjakan dengan sarana digital. Istilahnya, apa-apa tinggal klik. Mau belanja bisa di klik, mau bisnis, tinggal slide, mau transaksi tinggal pencet. Hampir semua kalangan dapat menikmati kecanggihan teknologi, setidaknya untuk bermain game, sekedar membuka jejaring sosial, ataupun yang lainnya. Berhubung saya bukan game-freak, jadi saya nggak akan membahas game–takut salah. Hehehe 😀

Oke, yang paling sering saya amati, perhatikan–apapun bahasanya–ketika surfing internet adalah jejaring sosial, terutama Facebook. Siapa yang nggak tau? Ketinggalan banget deh. Saking canggihnya teknologi, bersosialisasi pun bisa dilakukan dari rumah, tanpa harus face-to-face. Terkadang, orang-orang yang menikmati sosialisasi ala hi-tech ini bisa dikatakan bego, bodoh, fool, bad ass, stupid, lebay, alay, atau apalah. Istilah bego dan teman-temannya itu ditujukan untuk mereka yang menurut pendapat saya agak ‘berlebihan’ dalam ber-facebook ria.

Kenapa begitu? Inilah beberapa hasil pengamatan saya setelah sekian lama berada di ‘dunia lain’ tersebut :

1. Setidaknya ada beberapa saat dan dalam hitungan menit, maniak FB yang update status dengan broken heart story. Hahahaha, istilahnya ngadu lagi galau, patah hati, dsb. Kayak FB bakalan ngilangin rasa sakit hati aja, atau sekedar minta empati atau simpati dari orang lain. Kalau dipikir-pikir, masalah kayak gitu kan ‘biasanya’ bersifat pribadi. Rasanya kayak ngomong pelan-pelan tapi pake microphone di depan umum. Nggak malu ya?

2. Pasti ada aja kata-kata kotor, makian, kutuk-mengutuk yang ditujukan kepada seseorang. Menurut aku sih, itu ulah orang-orang yang pengecut. Kalau nggak suka sama seseorang, ngomong langsung dong. Ngata-ngatain lewat facebook nggak ada gunanya. Pesanku nih, buat ‘korban-korban’ dari orang yang hobinya kayak gitu, postive thinking aja, sabar. Oke?

3. Pernah dong baca pesan Wall-To-Wall yang kayak gini : A ke B = ” sayang lagi ngapain?” B ke A = ” nggak ada tuh..” A ke B = ” aku kangen kamu, love you :*” B ke A = ” love you too :*” Huaahahahahaaaaa, huueeeekkksss. Mau gangguin tapi rasanya gimanaaaa gitu, yaudah, ketawa aja. Apalagi kalo ada yang lagi berantem, seru tuh. Geli banget. Nggak malu ya kalau misalnya yang baca itu orang tua kalian, guru, atau malah teman-temannya? Aisshh, horrible.

4. Ada juga orang-orang yang ‘terlalu rajin beribadah’, sehingga berdoa pun bisa melalui Facebook. ” Ya Allah, blablabla…” Ampun deh, kayaknya Allah juga punya FB deh. Bukannya aku bermaksud melcehkan atau gimana, tapi kalau memang niatnya berdoa, kan lebih afdol kalau dilakukan dalam sholat, atau berdoa lainnya. (Menurut agama dan kepercayaan masing-masing ya).

5. Dan yang lebih konyol lagi, ada yang ‘hidup’ di Facebook. Pokoknya kayak punya kehidupan lain gitu. Get what I mean? Aku sih nggak terlalu ambil pusing buat kasus yang ini, mungkin aja mereka cuma ngelakuinnya just for fun atau alasan lainnya. Tapi tetap aja sih, buat aku yang kayak gini kesannya menyedihkan. Kayak yang nggak ada teman di dunia nyata atau gimanaaaa gitu. Entahlah, aku juga nggak ngerti.

Saya mengakui kalau saya juga seorang facebook-a-holic, akan tetapi saya menjamin saya tak termasuk dalam kategori segila itu. I’m crazy with my own style, don’t need facebook to be the one. Intinya, teknologi canggih terkadang membodohi kita. ‘Main’ sama teman-teman via Facebook itu nggak seasik main sama teman-teman di dunia nyata deh.

Namun dibalik hasil pengamatan negatif diatas, pengamatan yang hasilnya positif juga ada. Semua cerita punya dua sisi kan? Hahaha. Tulisan ini murni PENDAPATKU, mungkin ada teman-teman penulis lain yang berpendapat kurang lebih sama. Mungkin juga ada teman-teman pembaca yang tak sependapat denganku. Komentar dan masukkan boleh dikeluarkan.

Kita bebas berpendapat kan? 🙂